Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Saturday, 18 April 2015

Reflection : Lunch with God

Lunch with God


  A little boy wanted to meet God. He knew it was a long trip to where God lived, so he packed his suitcase with Twinkies and a six-pack of Root Beer and he started his journey.
        
When he had gone about three blocks, he met an elderly man. The man was sitting in the park just feeding some pigeons. 



The boy sat down next to him and opened his suitcase. He was about to take a drink from his root beer when he noticed that the man looked hungry, so he offered him a Twinkie.

The man gratefully accepted it and smiled at boy. His smile was so pleasant that the boy wanted to see it again, so he offered him a root beer.

Again, the man smiled at him. The boy was delighted! They sat there all afternoon eating and smiling, but they never said a word.

As it grew dark, the boy realized how tired he was and he got up to leave, but before he had gone more than a few steps, he turned around, ran back to the man, and gave him a hug. The man gave him his biggest smile ever.

When the boy opened the door to his own house a short time later, his mother was surprised by the look of joy on his face. She asked him, "What did you do today that made you so happy?

"He replied, "I had lunch with God." But before his mother could respond, he added, "You know what? God's got the most beautiful smile I've ever seen!"

Meanwhile, the elderly man, also radiant with joy, returned to his home. His son was stunned by the look of peace on his face and he asked," Dad, what did you do today that made you so happy?"

He replied, "I ate Twinkies in the park with God." However, before his son responded, he added," 
You know, he's much younger than I expected."

 

Too often we underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring, all of which have the potential to turn a life around. 
People come into our lives for a reason, a season, or a lifetime. Embrace all equally!


~author unknown~



 And so we know and rely on the love God has for us.
God is love.
 Whoever lives in love lives in God, and God in him.
1 John 4:16 NIV


Monday, 7 July 2014

Reflection: Birds and Wings

Birds and Wings 

An old legend says that God first created birds without wings. Sometime later, God made wings and said to the birds, "Come, take up these burdens and bear them." The birds hesitated at first, but soon obeyed. They tried picking up the wings in their beaks, but found them too heavy. Then they tried picking them up wit their claws, but found them too large. Finally one of the birds managed to get the wings hoisted onto its shoulders where it was possible to carry them.


To the amazement of the birds, before long the wings began to grow and they soon had attached themselves to the bodies of the birds. One of the birds began to flap his wings and others followed his example. Shortly afterwards, one of the birds took off and began to soar in the air above.

What had once been a heavy burden now became the very thing that enabled the birds to go where they could never go before...and at the same time, truly fulfill the destiny of their creation. The duties and responsibilities you count as burdens today may be part of God's destiny for your life, the means by which your soul is lifted up and prepared for eternity.

Don't be afraid of pressure. Remember that pressure is what turns a lump of coal into a diamond. You know the testing of your faith develops perseverance. Perseverance must finish its work so that you may be mature and complete, not lacking anything. James 1:3,4

God bless!!
========================================================================

Monday, 28 April 2014

Kebangkitan Kristus, Masa Depan Kita (Renungan Paskah)

Kebangkitan Kristus, Masa Depan kita


Ketika suatu kemalangan atau bencana terjadi, kita sering kali bertanya, "Mengapa saya harus mengalami ini? Mengapa ini harus terjadi kepada kami? Mengapa ada penyakit? Mengapa cacat? Mengapa orang itu mati? Atau, kita akan protes, menolak, bahkan berusaha menyangkalnya dengan berteriak, "Tidak, tidak ...!!!" Namun, sebagai pengikut Kristus, sudah benarkah reaksi kita ini? Sudahkah karya kebangkitan-Nya berdampak dalam kehidupan kita?

KETIDAKSEIMBANGAN SALIB DAN KEBANGKITAN KRISTUS

Yesus tidak hanya menebus umat manusia dengan wafat-Nya, tetapi juga dengan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Sebab, "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kebangkitan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." (1 Korintus 15:14-17)
Kebangkitan-Nya itulah yang memberi makna pada wafat-Nya, sementara wafat-Nya memberi makna pada kebangkitan-Nya. Wafat dan kebangkitan merupakan hal hakiki dan tidak dapat dipisahkan dalam karya penebusan Allah. Oleh karena itu, kita mutlak harus memberikan nilai dan kepentingan yang sama pada wafat dan kebangkitan Yesus.
Luis M. Bermejo dalam bukunya "Makam Kosong" mengingatkan kita akan sesuatu yang salah dalam iman Kristen kita, yaitu bahwa selama berabad-abad, orang Kristen telah tidak seimbang dalam hal memahami kematian dan kebangkitan Kristus. Kita semua lebih banyak memberi perhatian hanya pada salib.
Salib telah menempati posisi mencolok dalam kehidupan orang Kristen: gereja memakai tanda salib sebagai simbol imannya, orang Kristen mengenakan kalung salib, ada ordo yang memakai nama salib, saudara-saudara kita yang Katolik berdoa dengan membentuk tanda salib sambil menyebut nama tiga Pribadi Tritunggal Allah. Pada peringatan masa kesengsaraan Tuhan, di banyak gereja, orang-orang Kristen yang saleh mengikuti perjalanan sengsara Yesus dengan berdoa dan melakukan proses "jalan salib". Rasanya, hampir dalam segala hal, tanda yang dipilih adalah salib. Ada kesan bahwa keselamatan diselesaikan di atas salib, kesengsaraan, dan wafat Kristus. Oleh karena itu, kekristenan dengan tepat disebut sebagai "agama salib". Kebangkitan diabaikan atau paling tidak dikecilkan sampai pada ukuran yang memprihatinkan. Jelas ketidakseimbangan itu akan berdampak pada kerohanian kita. Misalnya saja, kehidupan Kristen menjadi kurang bersukacita karena pemusatan perhatian pada salib tanpa sadar telah menyebarkan iklim kemuraman pada wajah kekristenan kita. Apakah Anda setuju dengan pengamatan Luis di atas?
Menurut Anda, apa dampak terbesar dari ketidakseimbangan di atas dalam hidup kerohanian Anda?

MENGANTISIPASI MASA DEPAN KITA
Rasul Yohanes menulis di dalam suratnya: "Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya." (1 Yohanes 3:2)
Memang benar apa yang Rasul Yohanes katakan di atas. Kita tidak tahu seperti apa keadaan kita kelak, yang sempurna seperti Kristus itu. Namun demikian, hal itu tidak berarti bahwa kita sama sekali tidak tahu apa-apa. Karena kehidupan Kristus pada masa lampau adalah bagian dari bentuk kehidupan kita pada masa datang. Maka, walaupun secara sangat terbatas, kita dapat mengetahui seperti apakah hidup seperti Kristus itu.
Untuk itu, cobalah meluangkan waktu untuk membaca kitab Injil secara menyeluruh dalam satu kali pembacaan sehingga kita dapat melihat dan menemukan Yesus seutuhnya menurut penggambaran Injil tersebut.
Tanyakan pada diri Anda, dari apa yang Anda temukan pada Yesus, apakah yang paling mengesankan Anda.
Bayangkan dalam benak Anda, bagaimana Anda menjalani kehidupan ini dengan kualitas-kualitas Yesus yang mengesankan Anda tadi. Itu bukan sekadar imajinasi atau fantasi, tetapi kelak itulah mutu kehidupan yang kita miliki.

Judul buku:Perjumpaan dengan Salib Kristus

Sunday, 23 March 2014

Perjamuan Kudus (Renungan)

Perjamuan Kudus

I Korintus 11:27-28

Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.

Matius pasal 26 menceritakan salah satu acara paling terkenal dalam sejarah manusia dan juga acara makan bersama paling terkenal, Perjamuan Terakhir.

Ketika semua murid sudah duduk bersama, Yesus berkata, “"Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (ayat 27-28).

Yesus, seperti yang sering Ia lakukan, berbicara secara simbolis. Mengatakan sesuatu secara langsung tidak sesuai dengan perumpamaan yang sering Ia gunakan. Setelah itu, Yesus berkata bahwa Dialah Roti Kehidupan. Dan tidakkah Ia pernah mengatakan bahwa Dialah pintu?

Jadi, apakah kita orang Kristen berkeras bahwa Yesus adalah benar-benar roti dan pintu? Tentu saja tidak. Kita tidak berkeras bahwa roti dan anggur itu benar-benar secara nyata adalah darah dan daging Yesus. Tidak ada bukti bahwa terjadi sesuatu yang supranatural terjadi proses perubahan atas isi cawan itu berubah menjadi darah-Nya dan roti menjadi daging-Nya.

Oleh karena itu, ketika kita mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, jangan dibingungkan dengan apa yang terwakili olehnya. Kita tidak perlu berpikir bahwa roti adalah daging dan anggur mengandung darah.

Namun di lain sisi, kita jangan merendahkan Perjamuan Kudus dengan meremehkannya. Jelas Alkitab memperingatkan kita untuk menyadari pentingnya Perjamuan Kudus (Lihat 1 Korintus11:23-30).

Roti dan anggur bukanlah suatu unsur suci, namun hal itu mewakili unsur suci. Jadi lakukanlah dengan penuh penghormatan dan resapilah ketika melakukan Perjamuan Kudus. Sadarilah bahwa apa yang Anda lakukan adalah sebuah pengingat akan apa yang Yesus lakukan bagi kita ketika Ia disalibkan. Dengan darah yang tercurah dan dagingnya yang tercabik-cabik itu, setiap dosa, sakit dan penderitaan kita telah ditanggungnya. Anggur dan roti itu adalah pengingat bahwa Tuhan begitu mengasihi kita sehingga dikaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya siapa yang percaya pada-Nya tidak binasa.

Roti dan anggur yang kita makan dan minum saat perjamuan kudus adalah pengingat bahwa seorang pribadi telah mati bagi kita. 

Rujukan: Renungan harian kita

Tuesday, 17 September 2013

Pertobatan Sejati (renungan bahasa)

Pertobatan Sejati

Yoel 2:13
Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pegasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukumanNya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 34; 2 Tesalonika 1; Yesaya 21-22

Bangsa Israel memiliki kebiasaan yang khas dalam menunjukkan pertobatan. Mereka biasa mengoyakkan pakaian untuk menyatakan bahwa mereka sudah bertobat. Tanda-tanda lahiriah itu bagi mereka dirasa cukup untuk mengungkapkan bahwa mereka menyesali pelanggaran mereka.

Tetapi Allah sanggup melihat secara transparan sampai dasar hati. Di dalam pemandanganNya, "lip service" dan hal-hal lahiriah tidaklah berarti apa-apa tanpa didasari pertobatan sejati di dalam hati. Sandiwara murahan yang dipertontonkan manusia yang bisa mengelabui manusia yang lain, akan "kena batunya" jika dierhadapkan dengan cara Allah memandang.

Pertobatan (Yun = metanoia) berarti berbalik 180 derajat dari jalan sesat yang selama ini dilalui, bukan sekedar belok kanan atau kiri. Pertobatan adalah berbalik ke jalan Tuhan yang seharusnya dilalui. Secara negatif ada unsur meninggalkan jalan yang salah, dan secara positif menyusuri jalan yang benar.

Yoel menekankan pertobatan yang "dari dalam" dan bukan pertobatan yang "tampak luar". Karena pertobatan tidak ditujukan kepada manusia, tidak ada pilihan lain kecuali harus menunjukkannya dengan kesejatian. Bersandiwara di hadapan manusia, tidak akan memberi arti apa-apa, kecuali semakin menumpuk kesalahan di hadapan Tuhan.

Cara terbaik menunjukkan pertobatan adalah dengan menunjukkan kesejatiannya.

He Never Sleeps (Renungan Bahasa English)

He Never Sleeps

By Bill Crowder

Read: Psalm 121
He will not allow your foot to be moved; He who keeps you will not slumber. —Psalm 121:3
Bible in a year:
1 Samuel 22-24; Luke 12:1-31

Giraffes have the shortest sleep cycle of any mammal. They sleep only between 10 minutes and 2 hours in a 24-hour period and average just 1.9 hours of sleep per day. Seemingly always awake, the giraffe has nothing much in common with most humans in that regard. If we had so little sleep, it would probably mean we had some form of insomnia. But for giraffes, it’s not a sleep disorder that keeps them awake. It’s just the way God has made them.

If you think 1.9 hours a day is not much sleep, consider this fact about the Creator of our tall animal friends: Our heavenly Father never sleeps.

Describing God’s continual concern for us, the psalmist declares, “He who keeps you will not slumber” (Ps. 121:3). In the context of this psalm, the writer makes it clear that God’s sleepless vigilance is for our good. Verse 5 says, “The Lord is your keeper.” God keeps us, protects us, and cares for us—with no need for refreshing. Our Protector is constantly seeking our good. As one song puts it: “He never sleeps, He never slumbers. He watches me both night and day.”

Are you facing difficulties? Turn to the One who never sleeps. Each second of each day, let Him “preserve your going out and your coming in” (v.8).

The Rock of Ages stands secure,
He always will be there;
He watches over all His own
To calm their anxious care. —Keith

The One who upholds the universe will never let you down.