Showing posts with label Paskah. Show all posts
Showing posts with label Paskah. Show all posts

Monday, 28 April 2014

Kebangkitan Kristus, Masa Depan Kita (Renungan Paskah)

Kebangkitan Kristus, Masa Depan kita


Ketika suatu kemalangan atau bencana terjadi, kita sering kali bertanya, "Mengapa saya harus mengalami ini? Mengapa ini harus terjadi kepada kami? Mengapa ada penyakit? Mengapa cacat? Mengapa orang itu mati? Atau, kita akan protes, menolak, bahkan berusaha menyangkalnya dengan berteriak, "Tidak, tidak ...!!!" Namun, sebagai pengikut Kristus, sudah benarkah reaksi kita ini? Sudahkah karya kebangkitan-Nya berdampak dalam kehidupan kita?

KETIDAKSEIMBANGAN SALIB DAN KEBANGKITAN KRISTUS

Yesus tidak hanya menebus umat manusia dengan wafat-Nya, tetapi juga dengan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Sebab, "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kebangkitan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." (1 Korintus 15:14-17)
Kebangkitan-Nya itulah yang memberi makna pada wafat-Nya, sementara wafat-Nya memberi makna pada kebangkitan-Nya. Wafat dan kebangkitan merupakan hal hakiki dan tidak dapat dipisahkan dalam karya penebusan Allah. Oleh karena itu, kita mutlak harus memberikan nilai dan kepentingan yang sama pada wafat dan kebangkitan Yesus.
Luis M. Bermejo dalam bukunya "Makam Kosong" mengingatkan kita akan sesuatu yang salah dalam iman Kristen kita, yaitu bahwa selama berabad-abad, orang Kristen telah tidak seimbang dalam hal memahami kematian dan kebangkitan Kristus. Kita semua lebih banyak memberi perhatian hanya pada salib.
Salib telah menempati posisi mencolok dalam kehidupan orang Kristen: gereja memakai tanda salib sebagai simbol imannya, orang Kristen mengenakan kalung salib, ada ordo yang memakai nama salib, saudara-saudara kita yang Katolik berdoa dengan membentuk tanda salib sambil menyebut nama tiga Pribadi Tritunggal Allah. Pada peringatan masa kesengsaraan Tuhan, di banyak gereja, orang-orang Kristen yang saleh mengikuti perjalanan sengsara Yesus dengan berdoa dan melakukan proses "jalan salib". Rasanya, hampir dalam segala hal, tanda yang dipilih adalah salib. Ada kesan bahwa keselamatan diselesaikan di atas salib, kesengsaraan, dan wafat Kristus. Oleh karena itu, kekristenan dengan tepat disebut sebagai "agama salib". Kebangkitan diabaikan atau paling tidak dikecilkan sampai pada ukuran yang memprihatinkan. Jelas ketidakseimbangan itu akan berdampak pada kerohanian kita. Misalnya saja, kehidupan Kristen menjadi kurang bersukacita karena pemusatan perhatian pada salib tanpa sadar telah menyebarkan iklim kemuraman pada wajah kekristenan kita. Apakah Anda setuju dengan pengamatan Luis di atas?
Menurut Anda, apa dampak terbesar dari ketidakseimbangan di atas dalam hidup kerohanian Anda?

MENGANTISIPASI MASA DEPAN KITA
Rasul Yohanes menulis di dalam suratnya: "Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya." (1 Yohanes 3:2)
Memang benar apa yang Rasul Yohanes katakan di atas. Kita tidak tahu seperti apa keadaan kita kelak, yang sempurna seperti Kristus itu. Namun demikian, hal itu tidak berarti bahwa kita sama sekali tidak tahu apa-apa. Karena kehidupan Kristus pada masa lampau adalah bagian dari bentuk kehidupan kita pada masa datang. Maka, walaupun secara sangat terbatas, kita dapat mengetahui seperti apakah hidup seperti Kristus itu.
Untuk itu, cobalah meluangkan waktu untuk membaca kitab Injil secara menyeluruh dalam satu kali pembacaan sehingga kita dapat melihat dan menemukan Yesus seutuhnya menurut penggambaran Injil tersebut.
Tanyakan pada diri Anda, dari apa yang Anda temukan pada Yesus, apakah yang paling mengesankan Anda.
Bayangkan dalam benak Anda, bagaimana Anda menjalani kehidupan ini dengan kualitas-kualitas Yesus yang mengesankan Anda tadi. Itu bukan sekadar imajinasi atau fantasi, tetapi kelak itulah mutu kehidupan yang kita miliki.

Judul buku:Perjumpaan dengan Salib Kristus

Sunday, 23 March 2014

Perjamuan Kudus (Renungan)

Perjamuan Kudus

I Korintus 11:27-28

Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.

Matius pasal 26 menceritakan salah satu acara paling terkenal dalam sejarah manusia dan juga acara makan bersama paling terkenal, Perjamuan Terakhir.

Ketika semua murid sudah duduk bersama, Yesus berkata, “"Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (ayat 27-28).

Yesus, seperti yang sering Ia lakukan, berbicara secara simbolis. Mengatakan sesuatu secara langsung tidak sesuai dengan perumpamaan yang sering Ia gunakan. Setelah itu, Yesus berkata bahwa Dialah Roti Kehidupan. Dan tidakkah Ia pernah mengatakan bahwa Dialah pintu?

Jadi, apakah kita orang Kristen berkeras bahwa Yesus adalah benar-benar roti dan pintu? Tentu saja tidak. Kita tidak berkeras bahwa roti dan anggur itu benar-benar secara nyata adalah darah dan daging Yesus. Tidak ada bukti bahwa terjadi sesuatu yang supranatural terjadi proses perubahan atas isi cawan itu berubah menjadi darah-Nya dan roti menjadi daging-Nya.

Oleh karena itu, ketika kita mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, jangan dibingungkan dengan apa yang terwakili olehnya. Kita tidak perlu berpikir bahwa roti adalah daging dan anggur mengandung darah.

Namun di lain sisi, kita jangan merendahkan Perjamuan Kudus dengan meremehkannya. Jelas Alkitab memperingatkan kita untuk menyadari pentingnya Perjamuan Kudus (Lihat 1 Korintus11:23-30).

Roti dan anggur bukanlah suatu unsur suci, namun hal itu mewakili unsur suci. Jadi lakukanlah dengan penuh penghormatan dan resapilah ketika melakukan Perjamuan Kudus. Sadarilah bahwa apa yang Anda lakukan adalah sebuah pengingat akan apa yang Yesus lakukan bagi kita ketika Ia disalibkan. Dengan darah yang tercurah dan dagingnya yang tercabik-cabik itu, setiap dosa, sakit dan penderitaan kita telah ditanggungnya. Anggur dan roti itu adalah pengingat bahwa Tuhan begitu mengasihi kita sehingga dikaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya siapa yang percaya pada-Nya tidak binasa.

Roti dan anggur yang kita makan dan minum saat perjamuan kudus adalah pengingat bahwa seorang pribadi telah mati bagi kita. 

Rujukan: Renungan harian kita